Rabu, 06 Januari 2016

PROGRAM BINA KELUARGA BALITA


I. Latar Belakang
Dalam keseluruhan siklus hidup manusia, masa di bawah usia lima tahun (balita) merupakan periode yang paling kritis dalam menentukan kualiitas sumber daya manusia. Pada lima tahun pertama kehidupan, proses tumbuh kembang sangat cepat. Apabila pada masa tersebut anak balita tidak dibina secara baik, maka anak tersebut akan mengalami gangguan perkembangan emosi, sosial, mental, intelektual dan moral yang sangat menentukan serta nilai pola perilaku seseorang dikemudian hari.
Program Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan salah satu kegiatan yang sangat strategis dalm mengupayakan terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mengasuh dan membina tumbuh kembang balita.
Gerakan BKB diharapkan setiap keluarga mampu meningkatkan kemampuannya terutama dalam membina Anak Balita & Anak Usia Pra Sekolah Sehingga anak bertumbuh cerdas dan berkembang secara optimal, berkepribadian yang luhur, , serta taqwa kepada Tuhan Y.M.E. Upaya pembangunan Kualitas SDM merupakan Proses Jangka Panjang, bahkan dimulai sejak anak masih dalam kandungan.Ciri-ciri Khusus Program BKB :
1. Menitik beratkan pada pembinaan orang tua & anggota keluarga lainnya yg memiliki anak balita.
2. Membina tumbuh kembang balita.
3. Menggunakan alat bantu dalam hubungan timbal balik antara orang tua & anak berupa alat permainan (Alat Permainan Edukatif / APE, cerita, dongeng, nyayian) sebagai Perangsang Tumbuh Kembang Anak.
4. Menitik beratkan perlakuan orang tua yg tidak membeda-bedakan anak laki-laki dan perempuan.Manfaat Mengikuti BKB
Bagi Orang Tua :
1. Pandai mengurus & merawat anak, serta pandai membagi waktu & mengasuh anak.
2. Luas Wawasan & Pengetahuan tentang Pola Asuh Anak.
3. Meningkatkan keterampilan dalam hal mengasuh & mendidik BALITA.
4. Lebih baik dalam cara pembinaan anak.
5. Lebih banyak / dapat mencurahkan perhatian pada anaknya sehingga tercipta ikatan batin antara Anak & Orang Tua. Akan tercipta Keluarga Yang Berkualitas.
Bagi Anak :
Anak akan Tumbuh dan Berkembang sebagai anak :
1. Bertaqwa Kepada Tuhan Y.M.E.
2. Berkepribadian Luhur.
3. Tumbuh & Berkembang secara optimal.
4. Cerdas, Trampil & Sehat.
5. Memiliki Dasar Kepribadian yg kuat, guna perkembangan selanjutnyaTanggung jawab keluarga terhadap anak
a. Memenuhi kebutuhan dasar Kesehatah dan Gigi
b. Memenuhi kebutuhan rohaniah perasaan dilindungi, dihargai dan dicintai
c. Memenuhi kebutuhan spritual pendidikan, penanaman nilai-nilai agama dan hubungan sosial
d. Yang dapat ditanamkan dan diteladankan melalui keluargaPenanaman nilai-nilai dikaitkan dengan fungsi-fungsi keluarga diantaranya :
1. fungsi agama :
2. fungsi sosial budaya
3. fungsi cinta kasih
4. fungsi perlindungan
5. fungsi reproduksi
6. fungsi sosialisasi pendidikan
7. fungsi ekonomi
8. fungsi pembinaan lingkunganAda diagonal cinta kasih dalam keluarga
a. Cinta kasih anak dengan orang tua
b. Cinta kasih orang tua dengan anak
c. Cinta kasih saudara kandung
d. Cinta kasih pasangan / suami isteriII. Fokus Penelitian
Mengapa Tumbuh Kembang Anak penting, karena Usia Dini merupakan masa terbentuknya :
1. Kepribadian
2. Kemampuan Pengindraan,
3. Berpikir
4. Keterampilan berbahasa dan berbicara tingkah laku sosial.
5. Upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta kesadaran orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam pembinaan tumbuh kembang balita. Tumbuh kembang anak merupakan rangkaian perubahan yang teratur dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan berikutnya yang berlaku secara umum misalnya berdiri dengan satu kaki, Berjingjit, menaiki tangga, berlari, dst. Sasaran BKB adalah orang tua yang mempunyai balita.
Karakter adalah watak atau sifat bawaan yang merupakan fitrah seseorang yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan biasanya dicerminkan dengan moral dan tingkah laku. Tahap awal kehidupan di keluarga adalah masa yang paling penting dalam meletakkan dasar-dasar kepribadian Usia dini merupakan masa kritis dan sensitive dalam menentukan sikap, nilai dan pola perilaku, periode pertumbuhan kritis pada usia dini erat hubungannya dengan perkembangan biologis terutama otak.
Orangtua adalah lingkungan pertama dan utama bagi pengembangan anak, Karakter seseorang ditentukan oleh pengalamannya melalui keluarga, sekolah dan masyarakat. III. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan Sikap orang tua serta anggota keluarga lainnya Dalam membina tumbuh kembang secara menyeluruh dan terpadu guna mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tujuan Khusus
1. Memiliki pemahaman tentang kebijakan, strategi dan keterpaduan BKB
2. Meningkatkan kesadaran, sikap orang tua dan anggota keluarga lainnya
3. Terselenggaranya kegiatan BKB secara lintas sektor dan lintas program
4. Meningkatnya perhatian dan keterlibatan berbagai unsur
5. Memiliki pemahaman tentang peran orang tua terhadap tumbuh kembang balita dan anak.
6. Memiliki pemahaman tentang tumbuh kembang balita dan anak.
7. Memiliki keterampilan dalam menjelaskan komuikasi efektif orang tua dan anak.
8. Memiliki keterampilan dalam mengelola kelompok BKB
9. Memiliki pemahaman tentang pembentukan karakter sejak dini ( PKSD )
10. Memiliki keterampilan dalam penggunaan Kartu Kembang Anak ( KKA )
11. Memiliki keterampilan dalam penyuluhan
12. Memiliki keterampilan dalam pencatatan dan pelaporan. IV. Hasil Yang Diharapkan
a. Perkembangan Gerakan Kasar
b. Perkembangan Gerakan Halus
c. Komunikasi Pasif (Mengerti Isyarat)
d. Komunikasi Aktif (Mengungkapkan Keinginan)
e. Perkembangan Kecerdasan
f. Kemampuan Menolong Diri Sendiri
g. Kemampuan Bergaul/Bersosialisasi

PROGRAM BINA KELUARGA REMAJA (BKR)­



A.     Pengertian BKR
            Bina Keluarga Remaja (BKR) adalah kelompok keluarga yang mempunyai anak-anak remaja yang secara bersama-sama para orang tua dan anak-anaknya mengadakan pertemuan berkala untuk membahas keperluan pengembangan kemampuan sosial ekonomi keluarga yang bersangkutan, baik dalam bidang sosial maupun dalam bidang ekonomi
B.     Tujuan BKR
      1.      Tujuan Umum
            meningkatkan pengetahuan ortu, anak dan Remaja sehingga timbul kesadaran dan tanggung jawab untuk ketahanan keluarga melalui interaksi komunikasi yang sehat dan harmonis untuk mewujudkan Keluarga Sejahtera
      2.      tujuan khusus dimaksudkan untuk meningkatkan
a.      Wawasan ortu dan remaja
b.      Tumbuh rasa cinta dan kasih sayang antar keluarga
c.      Terlaksananya deteksi dini terhadap gejala masalah remaja
d.      Pembinaan Kesehatan Reproduksi sehat
e.      Kegiatan advokasi dan KIE pembentuk karakter sejak dini
f.        Meningkatkan pengetahuan Ortu, anak dan Remaja sehingga timbul kesadaran dan tanggung jawab untuk ketahanan keluarga melalui interaksi komunikasi yang sehat dan harmonis untuk mewujudkan Keluarga sejahtera.
    3.   Merupakan pengembangan program BKB sebagai bagian integral dari upaya pembangunan manusia indonesia seutuhnya
       4.      Dikembangkan dari kelompok BKB paripurna yang telah ada atau menumbuhkan kelompok BKB swadaya
         5.      Dikembangkan di daerah-daerah yang fasilitas prasekolah belum tersedia
         6.   Diprioritaskan pada upaya keluarga dalam mempersiapkan anak masuk sekolah.
C.     Kegiatan Pokok BKR
      1.      Penanggulangan kesepakatan dengan unsur terkait
      2.      Pembentukan Forum BKR di semua tingkatan
      3.      Perencanaan terpadu dengan sektor terkait melalui forum pokjanal BKR
      4.      Orientasi/pelatihan petugas dan pengelola.
      5.      Menyusun materi dan media BKR standar dan mulok sesuai budaya.
     6.      Pelaksanaan dan pengembangan KIE BKR/Sosialisasi untuk meningkatkan PSM dan BKR
     7.      Penentuan dan Evaluasi, melalui RR, kunjungan lapangan, pertemuan/rapat secara periodik.

PROGRAM BINA KELUARGA LANSIA (BKL)­



A. Pengertian BKL
Bina Keluarga Lansia (BKL) yaitu dengan memberi kesempatan penduduk usia lanjut untuk menikmati hari tuanya bersama keluarga.

B. Arah kegiatan BKL
Menjadi lansia merupakan proses alamiah, para lansia secara fisik dan mental mengalami kemunduran, maka perlu adanya upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif agar lansia dapat hidup mandiri dan tidak menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat.

C. Tujuan kegiatan BKL.
1. Untuk meningkatkan kualitas hidup lansia
2. Untuk mengembangkan kegiatan positif
3. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan lansia

D. Kegiatan BKL
1. Kegiatan inti.
a. Penyuluhan guna meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan.
b. Kunjungan rumah, sebagai upaya pembinaan langsung
c. Rujukan untuk mengatasi permasalahan lansia dan penyaluran minat
d. RR kegiatan BKL
2. Kegiatan pengembangan :
a. Kunjungan rumah, sebagai upaya pembinaan langsung
b. Rujukan, untuk mengatasi permasalahan lansia dan penyaluran minat
c. Kegagalan pengembangan untuk menyalurkan hobi, bakat/minat dalam mengembangkan potensi yang ada:
 Keagamaan
 Ekonomi produktif
 Kebugaran/rekreasi
 Temu nonstalgia




Senin, 14 Desember 2015

Konsep Dasar Program KKB Nasional

1.    Penduduk adalah :
Warga Negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia
2.    Kependudukan :
Hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah, struktural, pertumbuhan, penyebaran, mobilitas, penyebaran, kualitas dan kondisi kesejahteraan, yang menyangkut bidang politik, ekonomi sosial budaya, agama dan lingkungan penduduk setempat.
3.    Perkembangan Kependudukan dan pembangunan keluarga:
Adalah upaya terencana untuk mewujudkan Penduduk Tumbuh Seimbang dan Mengembangkan Kualitas Penduduk pada seluruh dimensi penduduk.
4.    Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.
5.    Keluarga berkualitas :
Adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan sejahtera sehat, maju, mandiri, religius, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
6.    Ketahanan dan kesejahteraan keluarga:
Adalah kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik-materil guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dari keluarga untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan kebahagiaan lahir batin, bertakwa kepada Tuhan yang Maha esa.
7.    Penduduk rentan
Adalah penduduk yang dalam berbagai materinya tidak atau kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensinya sebagai akibat dari keadaan fisik dan atau non fisiknya.
8.    Pendewasaan Usia Perkawinan
Pendewasaan usia perkawinan adalah sebagai upaya untuk meningkatkan usia kawin pertama bagi pria pada usia paling sedikit 25 tahun dan bagi wanita 21 tahun. Pertimbangan ini didasarkan pada kematangan fisik dan mental untuk membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera.
9.    Pengaturan kehamilan
Adalah upaya membantu pasangan suami istri untuk :
·                   Melahirkan pada usia yang ideal antara 20 – 30 tahun.
·                   Memiliki jumlah anak 2
·                   Mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan jarak antara 3-4 tahun,
          dengan menggunakan cara, alat dan obat kontrasepsi.
10.  Apa yang dimaksud dengan Ketahanan Keluarga
Ketahanan keluarga dimaksudkan sebagai kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan (kemampuan fisik-materil dan mental spiritual) sehingga mampu hidup mandiri dan mampu mengembangkan diri beserta keluarga untuk hidup harmonis mengembangkan diri beserta  keluarga untuk hidup harmonis mengembangkan diri beserta keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.

11.  Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kelahiran, hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas (UU NO 52 Tahun 2009)

Jumat, 11 Desember 2015

Sejarah Perkembangan Program KB Nasional



Sejarah Perkembangan Program KB Nasional

Upaya pengaturan kehamilan/kelahiran telah lama dikenal hampir lebih 100 tahun yang lalu. Pengaturan kehamilan telah dirintis oleh Margaret Sanger seorang perawat kandungan di New York pada 1883-1966 yang karena perjuangannya Margaret Sanger disebut sebagai Ibu KB Internasional.
Pelaksanaan Program KB merupakan proses yang panjang dan memerlukan perjuangan dan pengorbanan baik moril, maupun materiil karena pelaksanaan dimulai dari belum diterimanya pengaturan kehamilan oleh banyak kalangan. Secara kronologis rangkaian perjuangan pengembangan sosialisasi penerangan program KB sebagai berikut :
1992    : Anggota Gerakan Birth Control Amerika
1913    : Belajar di Eropa
1914    : “The Women Rebel”
1914    : “Family Limitation”
1916    : Klinik Birth Control, Brooklyn, New York
1921    : American Birth Control League
1952    : International Planned Parenthood Federation (IPPF)
Yang mendasari pemikiran pelaksanaan program KB pada saat itu sangan sederhana, pengaturan kehamilan didasari oleh banyak kasus Kematian pada ibu saat melahirkan. Dibawah ini beberapa yang mendasari pelaksanaan program KB:
1.    Banyaknya kehamilan yang tak diinginkan
2.    Tidak tersedianya cara/alat pengaturan kehamilan
3.    Pada waktu itu pengaturan kehamilan bertentangan perundang-undangan yang berlaku.
Bagaimana perkembangan KB di Indonesia?
Di Indonesia program KB dikenalkan pada Tahun 1950, pada saat itu KB merupakan kegiatan Dokter secara perorangan di Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Jakarta dan Bandung. Pemerintah dan masyarakat tidak mendukung kegiatan KB.
Pada tahun 1957 secara kelembagaan melalui berdiri Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang didirikan  dan ketuanya Dr. R. Soeharto. Saat itu KB merupakan usaha untuk mensejahterakan keluarga melalui pengaturan kehamilan dengan cara-cara yang dapat diterima oleh mereka yang melaksanakannya.
Sejalan dengan perkembangan masalah kependudukan yang terjadi secara internasional, tahun 1967 Indonesia menandatangani Deklarasi Kependudukan Dunia, Indonesia merupakan negara mendukung pelaksanaan Program KB, sehingga setelah itu dibentuk Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) melalui SK Menteri Kesejahteraan Rakyat.
Perkembangan program KB makin dibutuhkan sehingga pada tahun 1968 program KB dicanangkan sebagai Program Nasional sedangkan kelembagaan KB (LKBN) dirubah menjadi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dibentuk melalui Keppres 8/1970.
Untuk memperkuat kelembagaan pengelola KB tahun 1970 Pembentukan BKKBN dimulai diwilayah Jawa-Bali (1970) kemudian pada tahun 1974 dikembangkan pembentukan BKKBN LJB I dan BKKBN LJB II tahun 1979.
Pelaksanaan Program KB selama ini selalu mengacu kepada kebijakan yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan perkembangan paradigma baik secara nasional, regional maupun internasional. Paradigma program KB yang pada awalnya menekankan pada aspek demografis pada perkembangan selanjutnya berubah.
Perubahan paradigma ini lebih dipengaruhi oleh berbagai kesepakatan mengenai masalah-masalah kependudukan serta perubahan sistem pemerintahan di Indonesia antara lain:
1.    Kesepakatan dalam Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development) di Kairo tahun 1994.
2.    Desentralisasi, yang melimpahkan sebagian kewenangan di bidang Keluarga Berencana kepada pemerintah Kabupaten dan Kota.
Dalam uraian berikut akan dijelaskan tentang perkembangan program KB sebelum dan sesudah ICPD serta setelah era desentralisasi.
Program KB di Indonesia sebelum dan sesudah ICPD tahun 1994 mengalami perubahan secara nyata melalui dari perubahan pendekatan program sampai kepada pelaksanaan di tingkat lini lapangan.
a.    Sebelum ICPD 1994
Sebelum kesepakatan ICPD tersebut, yaitu  pada kurun waktu tahun 70-an sampai 90-an awal, program KB sangat menekankan pada aspek demografis yaitu pengendalian angka kelahiran. Hal ini menjadi dasar pelaksanaan program di lapangan yang menekankan kepada pencapainan peserta KB yang terus meningkat dengan berbagai upaya melalui dari komunikasi, informasi dan Edukasi (KIE)/penyuluhan, penggerakan masyarakat sampai pelayanan dan pembinaan. Meskipun dilakukan dengan perencanaan yang baik antar semua sektor, upaya untuk memperoleh peserta KB ini sering kali dianggap oleh sebagian orang dilakukan dengan penuh pemaksaan. Atau melanggar hak asasi manusia. Pelaksanaan safari KB pada masa lalu misalnya sering dianggap massal sehingga tidak memperhatikan persyaratan pelayanan yang benar seperti KIP/Konseling serta penapisan yang kurang tepat.
Contoh lain pemakaian kontrasepsi yang diarahkan kepada satu jenis alat/metode kontrasepsi tertentu, seperti adanya istilah Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)
Selain daripada itu pada kurun waktu tersebut masalah kesehatan reproduksi dari seksual belum mendapatkan perhatian bahkan oleh sebagian orang dianggap tabu dibicarakan. Penanganan kesehatan reproduksi ICPD 1994 belum secara tegas mencakup pelayanan kesehatan pada seluruh siklus kehidupan manusia yang terintegrasi dalam pelayanan KB dan pelayanan kesehatan lainnya.
Dalam upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPKS), kelompok yang dibentuk terdiri dari kaum perempuan saja karena program ini memang diarahkan untuk mengembangkan potensi kaum perempuan ke arah peningkatan ekonomi produktif. Perempuan diharapkan mempunyai kemampuan yang dapat diandalkan melalui dari hanya sekedar bersosialisasi di luar lingkungan keluarga sampai kepada mencari relasi untuk pemasaran produknya. Kemampuan seperti ini yang diharapkan dapat meningkatkan keterpurukan posisi perempuan dalam keluarga.
b.    Sesudah ICPD 1994
Pasca ICPD 1994 setiap negara mengadopsi hasil kesepakatan konferensi tersebut dalam kebijakan dan pelaksanaan programnya. Tidak terkecuali di Indonesia, paradigma program KB bergeser dari pendekatan kesehatan reproduksi, kesehatan gender dan pemberdayaan perempuan.
Khusus dalam pelayanan KB, pelayanan tidak hanya di tunjukan untuk penurunan angka kelahiran semata namun dikaitkan pula dalam tujuan untuk:
1.    Pemenuhan hak-hak reproduksi
2.    Promosi, pencegahan dan penanganan masalah-masalah kesehatan reproduksi dan seksual.
3.    Kesehatan dan kesejahteraan ibu bayi dan anak.
Dengan demikian program pelayanan KB dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari persoalan kesehatan reproduksi lainnya seperti Kematian maternal dan neonatal, kesehatan dan kehidupan seksual, maupun epidemik HIV/AIDS serta masalah-masalah kehidupan seksual dan reproduksi remaja.
Kesehatan Reproduksi Remaja perlu dibahas secara terbuka dan jelas antara orang tua dan anak remajanya serta tidak lagi dianggap tabu sehingga remaja mencari informasi di antara teman remaja lainnya. Untuk itu orang tua sangat penting memahami secara tepat tentang kesehatan reproduksi remaja yang dapat diperoleh dari berbagai sumber informasi yang tepat pula. Salah satu yang telah di kembangkan antara lain melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK – Remaja) Serta Keluarga Peduli Remaja. Pemahaman yang kurang tepat di kalangan remaja sering menyebabkan terjadinya salah gaul di antara remaja antara lain dengan terjadinya seks bebas dan kehamilan pra-nikah.
Dalam peningkatan kualitas keluarga, Program KB Nasional memperhatikan pentingnya diupayakan berbagai program dan kegiatan yang memperhatikan pemberdayaan perempuan serta terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) selain merupakan contoh upaya pemberdayaan perempuan juga diarahkan sebagai upaya untuk mendorong terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender antara perempuan dan laki-laki dalam keluarga dan masyarakat. Perempuan bukan lagi hanya penunggu rumah, atau tidak hanya identik dengan ranah domestik seputar rumah saja, tetapi juga mempunyai kemampuan dan peran yang dapat diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Demikian halnya dalam pengasuhan anak dan bimbingan bagi remaja, upaya kesertaan gender penting diperhatikan. Anak dan remaja bukan semata tanggung jawab dan urusan ibu  melainkan merupakan tanggung jawab bersama bapa dan ibu. Selain itu peluang dan kesempatan yang sama perlu diberikan kepada anak laki-laki dan perempuan dalam pendidikan dan sosialisasi.

Pemahaman terhadap seimbangnya peran dan tanggung jawab antara suami  dan istri dalam keluarga serta pentingnya perlakuan yang sama antara anak laki-lai dan perempuan inilah yang selalu diupayakan melalui berbagai kegiatan KIE selama ini. Tanggung jawab laki-laki dalam keluarga berencana juga menjadi perhatian khusus karena masih sangat rendahnya partisipasi sebagai peserta KB.

IKRAR LASKAR KKBPK

" IKRAR LASKAR KKBPK "

KAMI LASKAR KKBPK
SIAP BERUBAH TINGKATKAN ETOS KERJA
DAN GOTONG ROYONG MENJUNJUNG TINGGI INTEGRITAS...
BERHATI PUTIH BERKEMAUAN BAJA
BERSEMANGAT ELANG RAJAWALI
BERJIWA API YANG MENYALA NYALA...
SALAM PETUGAS KB
SEHAT.. SEMANGAT.. LUAR BIASA...
Bandung, 30 November 2015



IKRAR yang di bacakan pada acara TEMU AKBAR di SABUGA Bandung 

Sabtu, 05 Desember 2015

UPPKS

Kapan UPPKS hadir?
Dimulai sejak tahun 1979 melalui wadah UPPKA (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor) dalam rangka mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera). Sejak tahun 1994 berkembang menjadi UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera)
Di mana UPPKS berada?
Kelompok UPPKS tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Data Kelompok UPPKS dapat diakses melalui Wet Online BKKBN. http://databasis.bkkbn.go.id/uppks
Siapa saja anggota Kelompok UPPKS
Terdiri atas para peserta KB khususnya keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I, maupun keluarga yang belum menjadi peserta KB peserta KB pria, dan Remaja serta masyarakat sekitarnya yang berminat untuk ikut mengembangkan kegiatan Kelompok UPPKS tersebut.
Bagaimana UPPKS melakukan aktivitasnya?
Kelompok UPPKS melalui perangkat BKKBN didorong, diajak, difasilitasi dan didampingi untuk memanfaatkan segala sumber daya lokal (bahan baku, keahlian/kemampuan anggota, permintaan pasar, sumber pembiayaan dan lain sebagainya) untuk melakukan kegiatan pembelajaran dan atau peningkatan kegiatan ekonomi produktif.
Peningkatan kapasitas kemampuan anggota dan kelompok menjadi salah satu fokus kegiatan, di samping memfasilitasi mengakses modal kerja dari mitra serta menjalin kemitraan dengan elemen pendukung usaha dari berbagai kalangan di tingkat lokal maupun nasional.
Sumber Permodalan
APBN - APBD I, II – PEGADAIAN (KRISTA) – BRI (KUR) – PMPN MANDIRI – BANK MANDIRI
Pada sasarnya, setiap Kelompok UPPKS diharapkan pada akhirnya untuk mandiri, namun demikian BKKBN dapa memfasilitasi bantuan modal usaha yang bersumber dari berbagai pihak antara lain dari Swadaya, APBN/APBD, Perbankan, BUMN/BUMD, dan Dana Program Pemerintah, Sektor Swasta /CSR. Untuk bisa memperoleh bantuan modal usaha, Kelompok UPPKS harus terdaftar dalam Data basis Kelompok. Agar dana dimanfaatkan secara bertanggung jawab, maka bantuan/kredit yang benar-benar mempunyai kegiatan usaha ekonomi produktif dan dikelola sebaik-baiknya.
Sistem pembianaan
Pembinaan diharapkan dilaksanakan oleh BKKBN bekerjasama dengan lintas sektor terkait pusat/daerah, perguruan tinggi dan lembaga pemberdayaan masyarakat.
PLKB/PKB, Kader KB dan pendamping yang kemampuan untuk memotivasi Kelompok UPPKS sangat berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berwirausaha dan meningkatkan cakupan dan kualitas kelompok UPPKS, karena unsur-unsur tersebut berhubungan langsung dan sebagai petugas lini lapangan terdepan dalam membina dan mendampingi usaha kelompok UPPKS.
Keberhasilan usaha Kelompok UPPKS menjadi bahan pembinaan bagi para pembina yang pada akhirnya mengarahkan anggota kelompok menjadi peserta KB Mandiri, peserta KB Lestari dan menjadi motivator KB di wilayahnya.

PRODUK UPPKS

Jumlah Penduduk Jawa Barat


JUMLAH PENDUDUK

JAWA BARAT

 

Sumber : Sensus Penduduk


Tahun


Penduduk


1971


21.623.529


1980


27.453.525


1990


35.384.352


1995


39.206.787


2000


35.729.547


2010


43.053.732


 


TFR (Total Fertiliti
Rate)


SDKI 1991


3,37


SDKI 1994


3,17


SDKI 1997


3,0


SDKI 2002/03


2,8


SDKI 2007


2,6


 


CPR

(Contraceptive Prevelance Rate)


SDKI 1991


51,0


SDKI 1994


56,7


SDKI 1997


57,6


SDKI 2002/03


59


SDKI 2007


61,1